Rabu, 20 Juli 2011

HAKIKAT PUISI DAN PEMBAHASAN STRUKTUR PUISI

materi bahasa kelas X

A. Pengertian Puisi
Puisi adalah bentuk karya sastra yang menggunakan kata-kata yang indah dan kaya makna. Keindahan sebuah puisi disebabkan oleh diksi, majas, rima, dan irama yang terkandung dalam karya sastra. Adapun kekayaan makna yang terkandung dalam puisi dikarenakan oleh pemadatan segala unsur bahasa. Bahasa yang dipergunakan dalam dalam puisi berbeda dengan bahasa yang kita gunakan sehari-hari. Puisi menggunakan bahasa yang ringkas, namun maknanya sangat kaya. Kata-kata yang digunakan konotatif, yang mengandung banyak penafsiran.

Berdasar hal itu, dapatlah dirumuskan ciri-ciri puisi:
1. Dalam puisi terdapat pemadatan segala unsur kekuatan bahasa.
2. Dalam penyusunannya, unsur-unsur bahasa itu dirapikan, diperbagus, dan diatur
sebaik-baiknya dengan memperhatikan irama dan bunyi.
3. Puisi berisikan ungkapan pikiran ungkapan pikiran, penyair berdasarkan pengalaman
imajinatif.
4. Bahasa konotatif
5. Puisi dibentuk struktur fisik ( diksi, pengimajian, kata konkret, majas, ritma/
rima, tipografi) dan unsur (struktur) batin (tema dan amanat, perasaan, nada dan
suasana)


B. Unsur-unsur/ Struktur Puisi

1. Unsur Fisik (bentuk)

a. Diksi (pemilihan kata)
Penyair sangat cermat dalam memilih kata-kata. Kata-kata dipertimbangkan makna, komposisi bunyi dalam rima dan irama, kedudukan kata itu dalam konteks atau dalam hubungan dengan kata yang lain, serta kedudukankata dalam keseluruhan puisi. Leh karena itu, di samping memiliki kata yang tepat, penyair juga mempertimbangkan urutan kata dan kekuatan/ daya magis kata-kata.
Pemilihan kata-kata dalam puisi hendaknya bersifat puitis, yang mempunyai efek keindahan dan berbeda dengan kata-kata yang biasa kita pakai sehari-hari.

b. Pengimajian
Pengimajian/ Citraan dalam Puisi adalah gambar-gambar dalam pikiran dan bahasa yang menggambarkannya. Setiap gambar pikiran disebut citra atau imaji (image). Adapun gambaran pikiran adalah sebuah efek dalam pikiran yang sangat menyerupai, yang dihasilkan oleh penangkapan kita terhadap sebuah objek yang dapat dilihat oleh mata (indra penglihatan). Jika dilihat dari fungsinya, citraan atau pengimajian lebih cenderung berfungsi untuk mengingatkan kembali apa yang telah dirasakan.
Dengan demikian, citraan tidak membuat kesan baru dalam pikiran. Kita akan kesulitan menggambarkan objek atau sesuatu yang disampaikan dalam puisi jika kita belum pernah sama sekali mengalami atau mengetahuinya. Oleh karena itu, kita akan mudah memahami puisi jika memiliki simpanan imaji-imaji yang diperoleh dari pengalamannya.
Ada beberapa jenis citraan yang dapat ditimbulkan puisi, yakni
sebagai berikut.

1). Citraan Penglihatan dalam puisi

Citraan penglihatan ditimbulkan oleh indra penglihatan (mata). Citraan ini merupakan jenis yang paling sering digunakan penyair. Citraan penglihatan mampu memberi rangsangan kepada indra penglihatan sehingga hal-hal yang tidak terlihat menjadi seolah-olah terlihat.
Contoh citraan penglihatan dapat dilihat dari kutipan puisi berikut.

Perahu Kertas

Waktu masih kanak-kanak Kau membuat perahu kertas
dan kau
layarkan di tepi kali; alirnya sangat tenang, dan perahumu
bergoyang menuju lautan.

Karya Sapardi Djoko Damono
Sumber: Perahu Kertas, 1991



2). Citraan Pendengaran dalam Puisi

Citraan pendengaran berhubungan dengan kesan dan gambaran yang diperoleh melalui indra pendengaran (telinga). Citraan ini dapat dihasilkan dengan menyebutkan atau menguraikan bunyi suara, misalnya dengan munculnya diksi sunyi, tembang, dendang, suara mengiang, berdentum-dentum, dan sayup-sayup.

Contoh citraan pendengaran dapat dilihat dari kutipan puisi berikut.

Penerbangan Terakhir

Maka menangislah ruh bayi itu keras-keras
Kedua tangan yang alit itu seperti kejang-kejang
Kakinya pun menerjang-nerjang
Suaranya melengking lalu menghiba-hiba

Karya Taufiq Ismail
Sumber: Horison Sastra Indonesia 1 :Kitab Puisi 2002



3). Citraan Perabaan dalam Puisi
Citraan perabaan atau citraan tactual adalah citraan yang dapat dirasakan oleh indra peraba (kulit). Pada saat membacakan atau mendengarkan larik-larik puisi, kita dapat menemukan diksi yang menyebabkan kita merasakan rasa nyeri, dingin, atau panas karena perubahan suhu udara.

Berikut contoh citraan perabaan dalam puisi.

Blues untuk Bonie

sembari jari-jari galak di gitarnya
mencakar dan mencakar
menggaruki rasa gatal di sukmanya
Karya W.S. Rendra
Sumber: Horison Sastra Indonesia 1 : Kitab Puisi 2002


4). Citraan Penciuman dalam puisi
Citraan penciuman atau pembauan disebut juga citraan olfactory. Dengan membaca atau mendengar kata-kata tertentu, kita seperti mencium bau sesuatu. Citraan atau pengimajian melalui indra penciuman ini akan memperkuat kesan dan makna sebuah puisi.

Perhatikan kutipan puisi berikut yang menggunakan citraan penciuman.

Pemandangan Senjakala

Senja yang basah meredakan hutan terbakar
Kelelawar-kelelawar raksasa datang dari langit kelabu tua
Bau mesiu di udara, Bau mayat. Bau kotoran kuda.

Karya W.S. Rendra
Sumber: Horison Sastra Indonesia 1: Kitab Puisi 2002


5). Citraan Pencicipan atau Pencecapan dalam puisi

Citraan pencicipan disebut juga citraan gustatory, yakni citraan yang muncul dari puisi sehingga kita seakan-akan mencicipi suatu benda yang menimbulkan rasa asin, pahit, asam, manis, atau pedas.

Berikut contoh larik-larik puisi yang menimbulkan citraan pencicipan atau pencecapan.

Pembicaraan
Hari mekar dan bercahaya:
yang ada hanya sorga. Neraka
adalah rasa pahit di mulut
waktu bangun pagi
Karya Subagio Sastrowardojo


6). Citraan Gerak dalam puisi

Dalam larik-larik puisi, kamu pun dapat menemukan citraan gerak atau kinestetik. Yang dimaksud citraan gerak adalah gerak tubuh atau otot yang menyebabkan kita merasakan atau melihat gerakan tersebut. Munculnya citraan gerak membuat gambaran puisi menjadi lebih dinamis.

Berikut contoh citraan gerak dalam puisi.

Mimpi Pulang

Di sini aku berdiri, berteman angin
Daun-daun cokelat berguguran
Meninggalkan ranting pohon oak yang meranggas
Dingin mulai mengigit telingaku
Kuperpanjang langkah kakiku
Menyusuri trotoar yang seperti tak berujung
Di antara beton-beton tua yang tidak ramah mengawasiku
Gelap mulai merayap menyusul langkah kakiku
Ah, Gott sei dank! di sana masih ada burung-burung putih
itu
Aku bagaikan pohon oak
Ditemani angin musim gugur yang masih tersisa

Karya Nuning Damayanti Sumber: Bunga yang Terserak, 2003



c. Kata konkret dalam bahasa puisi
Untuk membangkitkan imaji (daya bayang) pembaca, maka kata-kata harus diperkonkret. Fungsinya agar pembaca seolah-olah melihat, mendengar, merasa apa yang dilukiskan penyair.

Jika imaji pembaca merupakan akibat dari pengimajian yang diciptakan penyair, maka kata konkret merupakan sebab terjadinya pengimajian itu.

Dengan kata yang diperkonkret, pembaca dapat membayangkan secara jelas peristiwa atau keadaan yang dilukiskan oleh penyair.

Perhatikan cuplikan puisi yang berjudul “Gadis Peminta-Minta” karya Toto Sudarto Bachtiar berikut!

Setiap kita bertemu, gadis kecil berkaleng kecil
Senyummu terlalu kecil untuk kenal duka
Tengadah padaku, pada bulan merah jambu
Tapi kotaku jadi hilang, tanpa jiwa
Ingin aku ikut, gadis kecil berkaleng kecil
Pulang ke bawah jembatan yang melulur sosok
Hidup dari kehidupan angan-angan yang gemerlapan
Gembira dari kemayaan riang
Duniamu yang lebih tinggi dari menara Katedral
Melintas-lintas di atas air kotor, tapi yang begitu kau hafal
Jiwa begitu murni, terlalu murni
Untuk bisa membagi dukaku


Untuk melukiskan gadis itu benar-benar seorang pengemis gembel, penyair menggunakan kata-kata “gadis kecil berkaleng kecil”. Lukisan itu lebih konkret daripada dengan menggunakan diksi “gadis peminta-minta” atau “gadis miskin”.

Untuk melukiskan tempat tidur pengap di bawah jembatan yang hanya dapat untuk menelentangkan tubuh, penyair menulis “pulang ke bawah jembatan yang melulur sosok”.

Untuk memperkonkret dunia pengemis yang penuh kemayaan, penyair memperkonkret diksi “hidup dari kehidupan angan-angan yang gemerlapan gembira dari kemayaan riang”.

Untuk memperkonkret gambaran tentang martabat gadis itu yang sama halnya memiliki martabat tinggi seperti manusia lainnya, penyair menulis “duniamu yang tinggi dari, menara Katedral”.


Contoh lain karya Rendra dalam ”Ballada Terbunuhnya Atmo Karpo. Ia membuat kata konkret berikut ini.

Dengan kuku-kuku besi, kuda menebah perut bumi
Bulan berkhianat, gosokkan tubuhnya pada pucuk-pucuk para
Mengepit kuat-kuat lutut penunggang perampok yang diburu
Surai bau keringat basah, jenawi pun telanjang.


Kaki kuda yang bersepatu besi disebut penyair /kuku besi/. Kuda itu menapaki jalan tidak beraspal yang disebut /kulit bumi/. Atmo Karpo sebagai perampok yang naik kuda digambarkan sebagai /penunggang perampok yang diburu/. Penggambaran perjalanan Atmo Karpo naik kuda yang meletihkan itu diperkonkret dengan larik /surai bau keringat basah/. Ia siap berperang dan telah menghunus /jenawi / (samurai). Hal ini diperkonkret dengan larik /jenawi pun telanjang/.

d. Majas
Majas ialah bahasa yang digunakan penyair untuk menyatakan sesuatu dengan cara pengiasan. Yakni dengan mengungkapkan makna secara tersembunyi, atau tidak langsung. Penggunaan majas membantu penyair menghadirkan kesan puitis melalui pemilihan bunyi yang dapat menimbulkan imajinasi di dalam diri pembaca.

Berikut ini beberapa contoh gaya bahasa:

1) Perbandingan dalam puisi
Majas perbandingan/ perumpamaan/ simile/ asosiasi adalah kiasan yang membandingkan sesuatu dengan yang lain dengan menggunakan kata pembanding seperti bagaikan, bak, semisal, seperti, serupa, dan kata pembanding lainnya. Misalnya, untuk menggambarkan keinginan Amir Hamzah untuk berjumpa dengan Tuhannya, ia menulis larik-larik seperti ini
Nanar aku, gila sasar
Sayang berulang padamu jua
Engkau pelik menarik ingin
Serupa dara di balik tirai


2) Metafora dalam bahasa puisi

Majas ini memang mirip dengan asosiasi. Bedanya, metafora tidak menggunakan kata-kata pembanding.
Contoh:
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
(Chairil Anwar, “Aku”)


3) Alegori
Alegori ialah majas yang mengiaskan sesuatu dengan hal lain atau kejadian lain. Misal dalam puisi “Teratai” (Sanusi Pane) meyimbolkan Ki Hajar Dewantara dengan kuntum bunga teratai dengan maksud untuk menautkan ciri-ciri bunga teratai dengan gagasan, pikiran atau cita-cita tokoh pendidikan tersebut.


e. Rima
Rima adalah pengulangan bunyi dalam puisi. Rima membentuk efek musikalitas. Dengan adanya rima itulah, efek bunyi makna yang dikehendaki penyair semakin indah dan makna yang ditimbulkan lebih kuat. contoh /dan angin pun mendesah/ mengeluh mendesah/. Konsonan /h/ pada larik tersebut memberikan efek makna kegelisahan. Sementara itu, perpindahan antara bunyi desis /s/ dan /h/ dengan menggunakan konsonan /n/ dalam angin mendesah menjadikan lagu puisi itu menjadi merdu. Di samping rima, dikenal pula istilah ritma, yang berarti sebagai pengulangan kata, frase, atau kalimat dalam bait puisi.
Pada puisi lama rima merupakan salah satu unsur yang mengikat puisi. Akan tetapi, puisi baru atau puisi kontemporer sudah tidak terikat dengan rima.

Contoh:
Dalam Kereta
Dalam kereta
Hujan menebal jendela
Semarang Solo . . . , makin dekat saja
Menangkap senja
Menguak purnama
Caya menyayat mulut dan mata
Menjengking kereta. Menjengking jiwa,
Sayatan terus ke dada
Karya: Chairil Anwar


Puisi ”Dalam Kereta” bersajak sama. Setiap baris diakhiri dengan bunyi yang sama, yaitu diakhiri dengan bunyi vokal /a/.


f. Irama
Irama dalam puisi erat hubungannya dengan bunyi yang berulang, pergantian yang teratur, dan variasi-variasi bunyi yang menimbulkan suatu gerak yang hidup, seperti gemericik air yang mengalir turun tidak putus-putus. Irama dapat pula berarti pergantian turun naik, panjang pendek, keras lembut ucapan bunyi bahasa dengan teratur. Irama terbagi atas ritme dan metrum.

1) Ritme adalah irama yang disebabkan oleh pertentangan atau
pergantian bunyi tinggi rendah secara teratur, tetapi tidak
merupakan jumlah suku kata yang tetap, melainkan hanya
menjadi gema dendang sukma.

2) Metrum adalah irama yang tetap, artinya pergantiannya
sudah tetap menurut pola tertentu. Hal ini disebabkan oleh
jumlah suku kata yang sudah tetap dan tekanannya yang tetap
hingga alun suara menaik dan menurun itu tetap saja.

Dalam puisi, irama timbul karena perulangan bunyi berturut-turut dan bervariasi, misalnya sajak akhir, asonansi, dan aliterasi.

g. Tata wajah (tipografi)
Tipografi merupakan pembeda yang penting antara puisi dengan prosa (cerpen, novel) dan drama. Kata-kata dalam puisi membentuk larik-larik sajak dalam bait, tidak berbentuk kalimat dalam paragraf.


2. Unsur Batin Puisi(isi)
Ada empat unsur batin puisi, yakni: tema (sense), perasaan penyair (feeling), nada atau sikap penyair terhadap pembaca (tone), dan amanat (intention).

a. Tema dan amanat

Tema dan amanat merupakan bagian dari struktur batin puisi. Tema merupakan pokok persoalan yang akan diungkap oleh penyair.

Pokok pikiran itu begitu kuat mendesak dalam jiwa penyair, sehingga menjadi landasan utama pengucapannya.

Jika desakan yang kuat itu berupa hubungan penyair dengan Tuhan, maka puisinya bertema ketuhanan. Jika desakan yang kuat itu berupa rasa belas kasih, maka puisi yang ia tulis bertema tentang kemanusiaan. Jika yang kuat itu dorongan untuk memprotes ketidakadilan, maka tema puisinya adalah kritik sosial. Perasaan cinta atau patah hati yang kuat juga dapat melahirkan tema cinta atau tema kedukaan karena putus cinta.


Tema tersirat dalam keseluruhan isi puisi. Persoalan-persoalan yang diungkapkannya itu merupakan penggambaran suasana batin. Tema tersebut bisa pula berupa respons penyair terhadap kenyataan sosial budaya sekitarnya. Dalam hal ini puisi berperan sebagai sarana protes atau pun sebagai ungkapan simpati dan keprihatinan penyair terhadap lingkungan dan kemasyarakatan.


Perhatikan puisi berikut!

Gadis Peminta-Minta
Setiap kita bertemu, gadis kecil berkaleng kecil
Senyummu terlalu kecil untuk kenal duka
Tengadah padaku, pada bulan merah jambu
Tapi kotaku jadi hilang, tanpa jiwa
Ingin aku ikut, gadis kecil berkaleng kecil
Pulang ke bawah jembatan yang melulur sosok
Hidup dari kehidupan angan-angan yang gemerlapan
Gembira dari kemayaan riang
Duniamu yang lebih tinggi dari menara Katedral
Melintas-lintas di atas air kotor, tapi yang begitu kau hafal
Jiwa begitu murni, terlalu murni
Untuk bisa membagi dukaku
Kalau kau mati, gadis kecil berkaleng kecil
Buah di atas itu, tak ada yang punya
Dan kotaku, ah kotangku
Hidupnya tak lagi punya tanda

(Toto Sudarto Bachtiar)

Tema kemanusiaan itulah yang melingkup puisi di atas. Penyair bermaksud menunjukkan betapa tingginya martabat manusia dan bermaksud meyakinkan pembacanya bahwa setiap manusia memiliki martabat yang sama. Perbedaan kekayaan, pangkat, kedudukan seseorang, tidak boleh menjadi sebab adanya pembedaan perlakuan terhadap kemanusiaan seserang. Seperti dalam puisi tersebut, penyair membela martabat kemanusiaan gadis peminta-minta yang disebutnya sebagai gadis kecil berkaleng kecil.

Jika kebanyaan orang menganggap bahwa pengemis yang meminta-minta di pinggir jalan sebagai sampah masyarakat, sebagai manusia yang tidak berharga maka penyair mengatakan dengan tegas bahwa martabat gadis kecil peminta-minta itu sama derajatnya dengan martabat manusia yang lain.

Amanat merupakan pesan yang disampaikan penyair dalam puisinya. . Penyair mengungkapkan solusi atau alternatif jawaban sebagai pemecahan terhadap tema yang disajikannya. Pesan-pesan tersebut dihadirkan dalam ungkapan yang tersembunyi. Di sinilah kelebihan seorang penyair, ia menyampaikan pesan-pesan itu melalui ungkapan yang sangat halus sehingga tidak menimbulkan kesan menggurui, vulgar, atau pun sok tahu.
Sesuai dengan tema yang dikemukakannya, maka amanat puisi akan selaras dengan temanya itu. Dari puisi yang bertema kemanusiaan, seperti yang dicontohkan di atas, akan lahir pula amanat berkisar soal kemanusiaan, “Hargailah manusia-manusia gembel yang diketegorikan sebagai sampah masyarakat. Mereka itu juga manusia yang mempunyai martabat sama dengan manusia lainnya. Kesengsaraan bukan kemauan mereka. Kita yang kebetulan bernasib lebih baik, hendaknya memikirkan nasib mereka, di samping nasib kita sendiri”. Demikianlah amanat yang hendak disampaikan Toto Sudarto Bachtiar dalam puisinya itu.

b. Perasaan dalam puisi
Puisi merupakan karya sastra yang paling mewakili ekspresi perasaan penyair. Bentuk ekspresi itu dapat berupa kerinduan, kegelisahan, atau pengagungan kepada kekasih, kepada alam, atau kepada Tuhan. Oleh karena itu, bahasa dalam puisi akan terasa sangat ekspresif dan lebih padat.

Jika penyair hendak mengagungkan keindahan alam, maka sebagai sarana ekspresinya ia akan memanfaatkan imaji-imaji, majas, serta diksi yang mewakili dan memancarkan nuansa makna tentang keindahan alam yang digambarkannya itu. Jika ekspresinya merupakan kegelisahan dan kerinduan kepada YME, maka bahasa yang digunakan cenderung kontemplatif atau penyadaran akan eksistensinya dan hakikat keberadaan dirinya sebagai hamba-Nya.

Tentang bagaimana seorang penyair mengekspresikan bentuk-bentuk perasaannya itu, antara lain, dapat dilihat dalam penggalan puisi berikut. /Hanyut aku Tuhanku/Dalam lautan kasih-Mu/Tuhan, bawalah aku/Meninggi ke langit ruhani/. Larik-larik tersebut puisi berjudul “Tuhan” karya Bahrum Rangkuti. Puisi tersebut merupakan pengejawantahan kerinduan penyair dengan Tuhan YME. Kerinduannya diekspresikan melalui kata, hanyut, kasih, meninggi, langit ruhani. Nuansa makna dari kata-kata itu memancarkan isi batin, kedalaman penghayatan penyair terhadap ekspresi ruhaniah dan pesan-pesan ketuhanan.

Ketajaman apresiasi dapat mengantarkan kita pada temuan-temuan berharga tentang makna martabat kemanusiaan. Karena itu, kita hendaknya selalu berasumsi bahwa lewat puisinya, setiap penyair ingin mengungkapkan suatu makna tentang kebenaran-kebenaran hidup. Setiap penyair ingin membeberkan rahasia dunia dan kehidupannya. Dengan asumsi semacam itu, kita tidak hanya terpikat oleh bahasa puisi, kemudian lupa mencari makna dan pesan-pesan kehidupan.

c. Nada dan Suasana dalam puisi

Dalam menulis puisi, penyair mempunyai sikap tertentu terhadap pembaca: apakah dia ingin bersikap menggurui, menasihati, mengejek, menyindir, atau bersikap jujur, lugas menceritakan sesuatu kepada pembaca. Sikap penyair kepada pembaca ini disebut nada puisi. Sering kali puisi bernada santai karena penyair bersikap santai kepada pembaca. Hal ini dapat kita jumpai dalam puisi-puisi mbeling.

Jika nada merupakan sikap penyair terhadap pembaca , maka suasana puisi adalah keadaan jiwa pembaca setelah membaca puisi itu, atau akibat psikologis yang ditimbulkan puisi itu terhadap pembaca.

Jika kita bicara tentang sikap penyair, maka kita berbicara tentang nada; jika kita berbicara tentang suasana jiwa pembaca yang timbul setelah membaca puisi, maka kita berbicara tentang suasana.

Nada dan suasana puisi saling berhubungan karena nada puisi menimbulkan suasana terhadap pembacanya. Nada duka yang diciptakan penyair dapat menimbulkan suasanan iba hati pembaca. Nada kritik yang diberikan penyair dapat menimbulkan suasana penuh pemberontakan bagi pembaca. Nada religius dapat menimbulkan suasana khusyuk.

bahasakelasx

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar